Kenormalan baru atau new normal ternyata menjadi lebih dinamis kompleksitasnya, tidak seperti apa yang diperkirakan sebelumnya. Kompleksnya penanganan COVID-19 membuat pemerintah Indonesia pun meningkatkan anggaran penanganan COVID-19 yang awalnya 641,17 triliun rupiah menjadi 677,2 triliun rupiah atau sekitar 48 miliar dolar AS.

Dalam waktu dua bulan saja, perubahan anggaran penanganan COVID-19 telah dilakukan sebanyak tiga kali. Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, mengharapkan dengan adanya perubahan ini, Indonesia dapat mengalami kenaikan produk domestik bruto (PDB) sebesar 2.3% tahun ini untuk skenario terbaik atau sebesar 0.4% untuk skenario terburuk.

LexPartner, apakah ini pertanda buruk untuk tetap berbisnis di Indonesia? Perubahan anggaran dilakukan untuk tetap mengakomodasi kemudahan berbisnis dan memberikan kepastian dalam bertransaksi di Indonesia. Sri Mulyani mengharapkan bahwa adanya stimulus ini dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas angka 0 (nol) persen. 

Maka dari itu, penting untuk LexPartner agar terus mengeksplorasi segala opsi berbisnis yang ada. Hal ini dilakukan untuk mempertimbangkan skenario terburuk apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali stagnan. Lexar hadir untuk memberikan asistensi kepada LexPartner terkait semua hal mengenai hukum dan keberlangsungan bisnis kalian.

LXR – Abdur.