Era kenormalan baru atau new normal ternyata tidak membuat perusahaan modal ventura enggan untuk tetap berinvestasi ke di perusahaan rintisan atau startup di Indonesia. Keberadaan startup yang berbentuk ‘rintisan’ sempat membuat khawatir beberapa perintis untuk terus melanjutkan bisnis startup-nya. Inisiatif pemodal atau investor terhadap startup-startup lokal jelas membawa angin segar bagi banyak orang di Indonesia.

Dilansir dari Bisnis Indonesia, sektor-sektor startup yang berhasil ‘melirik’ hati investor antara lain adalah sektor agrikultur, logistik, dan kesehatan. Sektor-sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendatangkan permintaan produk-produk yang tinggi di era new normal. Lalu, bagaimana nasib startup yang bukan berada di sektor ini?

Startup yang berada di luar tiga sektor tersebut tetap dapat berkolaborasi dengan mitra lain yang bergerak di sektor ‘ramah-investor’. Kenapa demikian? Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai protokol kesehatan di lingkup perkantoran dan industri Indonesia agar perekonomian tetap berjalan. Kolaborasi pun menjadi hal yang wajib dilakukan oleh startup Indonesia agar tetap bertahan di era new normal. Selain memperluas jangkauan pasar, kolaborasi juga dapat mempercepat recovery usaha startup yang sempat terhambat pada awal mula COVID-19 datang ke Indonesia.

Siap kembali berbisnis?

Melalui kebijakan pemerintah yang mulai melanggengkan perpindahan orang untuk menopang ekonomi ini, startup dapat segera melakukan penyesuaian besar-besaran terhadap seluruh kegiatan usaha yang lazim dilakukan sebelum era new normal. Digitalisasi menjadi suatu prioritas yang harus dimaksimalkan selama era new normal. Kepiawaian startup dalam menunjukkan value proposition di era new normal akan menjadi daya tarik bagi investor, terlepas apa pun sektor startup tersebut.

LXR – Abdur.